Kotak Musik

Grand Final DBL

Penyerahan Hadiah - www.daribaliklensa.com

Grand Final DBL

Media Visit Peserta Grand Final - www.daribaliklensa.com

DBL Kota Jakarta

Workshop DBL - www.daribaliklensa.com

DBL Kota Makassar

Penyerahan Hadiah - www.daribaliklensa.com

DBL Kota Jogjakarta

Penyerahan Hadiah - www.daribaliklensa.com

Tampilkan postingan dengan label Events. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Events. Tampilkan semua postingan

SAD MICKEY JAWARA FOTO COMPETITION 2014






ROADSHOW Journalistic Photography Workshop, Hunting, and Photo Competition Dari Balik Lensa mencapai titik akhir di tahun ini. Tiga pemenang akhirnya diumumkan dalam Grand Final di Hotel Novotel, Jakarta, Sabtu (6/12).

Ketiga pemenang yang keluar sebagai foto terbaik bertema Kehidupan metropolitan itu ialah foto berjudul Sad Mickey karya Faqih sebagai pemenang pertama, Sepak Bola Mini karya Hendro Praynyoto sebagai pemenang kedua, dan Pedagang di Jembatan Penyebrangan karya Kenny sebagai pemenang ketiga.

Penyerahan penghargaan untuk setiap pemenang diberikan Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia Hariyanto kepada ketiga pemenang tersebut.

Hariyanto mengatakan dalam Grand Final itu sebanyak 11 peserta diambil dari 2 pemenang setiap kota, yaitu Bandung, Jawa Barat, Jakarta, Makassar, Sulawesi Selatan, Yogyakarta, dan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, serta satu pemenang photo competition.

"Kesebelas pemenang Roadshow Journalistic Photography Workshop itu mengikuti workshop dahulu sebelum penganugerahan pemenang foto terbaik," kata Hariyanto.

Ia mengatakan dalam workshop tersebut peserta diberi kiat-kiat menjadi seorang fotografer yang mampu mengabadikan momen penting, khususnya dalam kegiatan jurnalistik. Intinya, untuk menjadi fotografer, seseorang harus mempunyai gambaran atau visualisasi mengenai subjek foto yang akan diambil.

Dalam memotret, seorang fotografer juga jangan terjebak pada jenis foto apa yang akan diambil sehingga mematikan kreativitas dan imajinasi.

Hariyanto menambahkan, sebuah foto apalagi foto jurnalistik yang berisikan human interest pasti membuat orang tergugah karena foto itu dimuat dalam koran yang bisa dibaca semua lapisan masyarakat.

"Pernah kami mendapatkan pengalaman ketika didatangi anak-anak SD ke Kantor Media Indonesia. Mereka berterima kasih karena setelah foto sekolah mereka yang rusak dimuat di Media Indonesia, SD itu mendapat perhatian," terangnya.

Hariyanto pun berbagi kiat kepada peserta mengenai etika sebagai fotografer. MEnurut dia, sesulit apap pun objek foto yang akan diambil, dengan menghasilkan gambar terbaik, etika dan kesopanan dalam berfoto perlu diperhatikan.

"Misalnya, mengambil objek foto dalam kegiatan upacara keagamaan jangan sampai mengganggu ritual keagamaan demi mendapatkan gambar terbaik," jelasnya

Selain peserta mendapatkan materi workshop, para peserta diberi kesempatan berburu gambar di sekitar objek wisata Jakarta, yakni Moumen Nasional, pada Sabtu (7/12)


BERBAGI PENGALAMAN DI PANGKALAN BUN









Setelah sukses menggelar Journalistic Photography, Workshop, Hunting dan Photo Competition, sejak Juni lalu, di 4 kota besar di Indonesia, yakni Bandung, Jakarta, Makassar, dan Yogyakarta. Roadshow Dari Balik Lensa 'Historical Landmark' 2014 Media Indonesia, akhirnya harus usai di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, Minggu (9/11).

Selama dua hari, Sabtu (8/11) dan Minggu (9/11), Para mentor dan juri lomba fotografi 'Historical Landmark' Pangkalan Bun, yaitu Kepala Divisi Foto dan Artistik Harian Media Indonesia, Hariyanto, Fotografer Senior Harian Media Indonesia, Ramdani dan Head of Media Tanjung Lingga, Yohanes Widada, berbagi pengalaman , pengetahuan dan ilmu fotografinya, kepada puluhan fotografer amatir dan profesional dari berbagai latar belankang di Pangkalan Bun dan sekitarnya, yang mengikuti kegiatan Journalistic Photography, Workshop, Hunting dan Photo Competition, di Aula Bappeda, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat (Kobar).

Dalam lomba fotografi kali ini, puluhan foto yang dikumpulkan oleh para peserta lomba, diseleksi bersama oleh para juri dan seluruh pesertalomba, untuk selanjutnya dipilih 11 foto diantaranya untuk dinilai oleh para juri yang ditunjuk.

Para juri memilih 3 foto terbaik yang akan menjuarai lomba fotografi 'Historical Landmark' Pangkalan Bun. Tiga pemenang tersebut adalah, Saud Teguh A P sebgai juara pertama, Faqih Akbar sebagai juara kedua dan Muslih sebagai juara ketiga.

Para pemenang medapatkan sejumlah uang tunai dan bingkisan hadiah lainnya dari para sponsor yang mendukung suksesnya kegiatan ini. "Dari 11 foto tadi,kita pilih lagi 3 foto terbaik dan 8 foto lainnya jadi nominasi. Yang kalah jangan kecewa dan tetap semangat. Jangan pernah menyerah. Sering-sering ikuti lomba dan manfaatkan semua kesempatan yang ada untuk terus berkarya. Foto-foto pemenang lomba ini akan dicetak di harian Media Indonesia. Di travelista Media Indonesia edisi Kamis nanti," kata Haryanto, Minggu (9/11).

DARI BALIK LENSA HISTORICAL LANDMARK DI PANGKALAN BUN



Saud Teguh A.P, Faqih Akbar dan Muslih menjuarai lomba fotografi 'Historical Landmark' Pangkalan Bun. Pemilihan pemenang itu bagian dari rangkaian Journalistic Photography, Workshop, Hunting dan Photo Competition, yang diselenggarakan Media Indonesia bekerja sama dengan Borneonews dan Palangka Post.

Sukses menggelar Journalistic Photography, Workshop, Hunting dan Photo Competition, sejak Juni lalu, di 4 kota besar di Indonesia -- Bandung, Jakarta, Makassar dan Yogyakarta -- Roadshow Dari Balik Lensa 'Historical Landmark' 2014 Media Indonesia, berakhir di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (9/11).

Selama dua hari, Sabtu (8/11) dan Minggu (9/11), para mentor dan juri lomba fotografi 'Historical Landmark' Pangkalan Bun, berbagi pengalaman, pengetahuan dan ilmu fotografi kepada puluhan fotografer amatir dan profesional dari berbagai latar belakang di Pangkalan Bun dan sekitarnya. Para juri dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Bappeda, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat itu, Kepala Divisi Foto dan Artistik Harian Media Indonesia Hariyanto, Fotografer Senior MI, Ramdani dan Head of Media Tanjung Lingga, Yohanes S. Widada.

Dalam lomba kali ini, puluhan foto yang dikumpulkan para peserta diseleksi bersama para juri dan seluruh peserta lomba, untuk dinilai oleh para juri. Dari situ terpilihlah Saud, Faqih dan Muslih.

Para pemenang mendapatkan sejumlah uang tunai dan bingkisan hadiah lainnya dari para sponsor. Dari 11 foto dipilih lagi 3 foto terbaik dan 8 foto lainnya sebagai nominasi. Kata Hariyanto, yang kalah jangan kecewa dan tetap semangat. Jangan pernah menyerah. Sering-sering ikuti lomba dan manfaatkan semua kesempatan untuk terus berkarya.

"Foto-foto pemenang lomba ini akan dicetak di Harian Media Indonesia. Di travelista Media Indonesia edisi Kamis nanti," kata Hariyanto, Minggu.

Head of Media Tanjung Lingga, Yohanes S. Widada, sebagai pengelola Borneonews dan Palangka Post, sangat bangga dapat bekerjasama dengan Media Indonesia menggelar Dari Balik Lensa 'Historical Landmark' di Pangkalan Bun.

Terlebih lagi, kata Yohanes, foto-foto yang dihasilkan para fotografer Pangkalan Bun dapat memberikan perspektif berbeda bagi para penikmatnya. "Yang penting tetap berlatih dan jangan kalah sama karya-karya mas Haryanto, mas Unang (Ramdani) dan lain-lain di Jakarta," canda Yohanes Widada.

Tak Rugi Ikut Workshop Fotografi Dari Balik Lensa

Berbagai teori dan persiapan yang harus diperhatikan fotografer dalam memproduksi sebuah foto yang bagus dipaparkan dalam workshop fotografi Dari Balik Lensa bertema Historical Landscape di aula kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Sabtu, (8/11) siang.

Seusai workshop, sorenya para peserta sudah tak tahan mempratikan pengetahuan baru yang didapat dari pemateri, yakni Kepala Divisi Artistik dan Foto Harian Media Indonesia, Hariyanto.

Dengan antusias mulai sore, malam, dan pagi menjelang siang sebelum pukul 12.00 WIB Minggu (9/11) peserta memburu foto-foto yang menjadi target lomba foto.

Objek-objek yang bisa diabadikan para peserta lomba fotografi di antaranya Bundaran Pancasila, Istana Kuning, Istana Mangkubumi dan beberapa objek lainnya.

Andre salah seorang peserta, mengaku tidak merasa rugi mengikuti workshop tersebut. "Pengetahuan yang diberikan oleh pemateri sangat berguna, penyampaiannya juga santai dan komunikatif," ujar Andre.

Menurutnya hal-hal yang disampaikan oleh pemateri tersebut sebenarnya sederhana, tetapi terkadang fotografer tidak menyadari pernah melakukan kekeliruan seperti yang disampaikan pemateri.

"Contohnya ketidaktahanan fotografer terhadap godaan. Maksudnya bila objek yang difoto tersebut letaknya jauh dari tempat tinggal, fotografer tergoda untuk enggan memotret dengan alasan lokasi yang jauh, sedangkan matahari sedang bersinar sangat terik dan cuaca sangat panas," tuturnya.

Dengan melatih diri untuk tahan terhadap godaan tersebut, lanjut Andre, kesemparan mendapatkan foto yang bagus bisa semakin besar.

"Selain itu ada beberapa eleman lainnya seperti melakukan pravisualisasi sebelum memotret, memperkaya memori visual dengan sering-sering melihat objek foto yang bertujuan agar otak bisa merekam foto yang bagus dan diri kita bisa mengulanginya bila menemui situasi dan kondisi yang mirip dengan foto yang pernah dilihat," jelasnya.

BURU TEMPAT BERSEJARAH



PESERTA Workshop, Hunting and Photo Competition Dari Balik Lensa bertema Historical Landmark di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kabupaten Kotawaringin Barat, Sabtu (8/11), sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Sejak kemarin sore para perserta yang sudah memulai hunting foto untuk disertakan dalam lomba.

Kegiatan selama dua hari ini (Sabtu-Minggu, 8-9/11) adalah rangkaian Dari Balik Lensa 'Historial Landmark' Roadshow 2014 yang digelar Media Idonesia bekerjasama dengan beberapa pihak, termasuk Borneonews dan Palangka Post.

Objek-objek yang ditentukan untuk lomba antara lain, Monumen Paladan Sambu, Istana Kuning, Astana Mangkubumi dan komplek makan raja-raja. Keempatnya berada di Pangkalan Bun. Sementara launnya antara lain Monumen 14 Januari dan Bundaran Pangkalan Lima, keduanya di Kecamatan Kumai. Kemudia Astana Al-Nursari, masjid dan makam Kyiai Gede, ketiganya di Kecamatan Kotawaringin Lama.

Karena jari-jemari para peserta sudah gatal ingin segera memencet tombol rana kamera seusai workshop, mereka segera mencari objek-objek foto yang sudah ditentukan. Hal ini disebabkan batas waktu mengumpulkan foto untuk diikutsertakan dalam photo competition adalah pulukl 12.00WIB hari ini. "Waktu huntingnya terbatas untuk photo competition. Jadi kita mulai sore ini juga," cetus Raden, salah seorang peserta workshop.

Kepala Divisi Artistik dan Foto Harian Media Indonesia Hariyanto dalam tutorialnya menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan untuk memproduksi foto yang bagus salah satunya adalah memperkaya visualisasi. Maksud dari memperkaya visualisasi adalah sering-sering melihat obyek foto yang menarik dari buku, koran, televisi atau sumber-sumber lainnya. Dengan begitu, memori otak akan merekan bagaimana visualisasi foto-foto tersebut. "Banyak=banyak lihat tayangan National Geographic atau Discovery Channel. Itu akan banyak membantu memperkaya visualisasi," juar Hariyanto mencontohkan.

PELAJAR MAKASAR IKUTI WORKSHOP FOTOGRAFI MI



Hobi fotografi terus meluas. Selain masyarakat umum dan mahasiswa, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kegiatan yang satu itu juga telah menggoda kalangan pelajar.

Ketika Media Indonesia menggelar Journalistic Photography Workshop, Hunting and Photo Competition, akhir pekan lalau, ada 50 peserta yang hadir. Enam orang diatara peserta ialah pelajar SMA.

"Saya sangat senang ikut kegiatan ini karena meski saya suka fotografi saya masih buta dengan teori-teori dasar cara memotret yang bisa bercerita. Setelah mengikuti kelas workshop ini saya sudah mulai paham," aku Nahda Nur Anisah, pelajar SMAN 3 Makassar.

Meski digelar di Makassar, workshop bertema Dari balik lensa historical landmark itu juga diikuti peserta dari Papua dan Papua Barat.

Pada kesempatan itu, Hariyanto, Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia, menyatakan pewarta foto yang baik harus mampu membangun insting, memahami persoalan, dan tidak pantang menyerah. Karena itu, saat memotret sebuah acara atau kegiatan, fotografer harus ada sebelum acara dimulai dan meninggalkan tempat setelah acara tuntas.

"Salah satu godaan fotografer ialah meniggalkan lokasi setelah merasa mendapat gambar yang bagus. Lebih dari itu, foto juga harus bisa memberi edukasi," tandasnya di Aula Benteng Rotterdam, Makassar.

Selain workshop, para peserta ditantang berkompetisi. Tiga pemenang dipilih dan mendapat hadiah uang tunai serta sejumlah bingkisan.

Untuk menumbuhkan hobi fotografi, Media Indonesia telah menggelar kegiatan serupa di Jakarta dan Bandung. Setelah Makassar, event yang sama akan diadakan di Yogyakarta dan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.


MENSYUKURI BERKAH TEKNOLOGI FOTOGRAFI





SABTU pagi, salah satu aula di Gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), yang kini dikenal dengan nama Museum Bank Mandiri di Kawasan Kota Tua, Jakarta, menjadi lebih riuh daripada biasanya.

Tidak mengherankan karena sekitar 130 peserta berkumpul untuk yang mengikuti workshop Dari Balik Lensa yang diselenggarakan Media Indonesia bertema Historical landmarks pada 23-24 Agus tus 2014.

Aula itu terisi penuh oleh para pelaku dan penikmat fotografi yang sedang asyik mengapresiasi puluhan foto yang ditampilkan dalam mode slide show. Itulah foto-foto yang disajikan oleh mentor acara itu, yakni Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia, Hariyanto.

Tema Historical landmarks dipilih agar generasi muda di ajak mengenal kembali sejarah sekaligus melestarikannya.

"Tak hanya melestarikan, tetapi juga memotret realitas yang terjadi berkaitan dengan lingkungan dan manusia di sekitarnya," jelas Hariyanto.

Peserta tak dibatasi, semua kalangan dari berbagai usia bisa menjadi bagian di dalamnya.

"Berkat berkah teknologi fotografi, kini memotret menjadi relatif lebih mudah. Kini fotografi milik banyak orang tak terbatas usia dan kalangan," jelas Hariyanto.

Salah satunya ialah Fadel Mohammad, siswa SMA Negeri 61 Jakarta Timur. Ia menyatakan ketertarikannya pada foto-foto jurnalistik yang berkaitan dengan alam, dan sering mengambil referensi dari majalah National Geographic.

Lain halnya Wulan Kurniati yang bekerja sebagai seorang auditor. "Saya biasanya foto untuk model, yang objeknya bisa dikondisikan, berbeda dengan foto jurnalistik yang memang berdasarkan momen," jelasnya.

Di saat hampir semua media massa di Indonesia memberikan ruangnya bagi masyarakat, tak banyak yang memberikan edukasi mengenai bagaimana seharusnya foto memenuhi kaidah jurnalistik.

"Berdasarkan pengalaman saya di Media Indonesia membuktikan, banyak yang bisa memotret, dan mereka mengirimkan foto kepada kami, tapi jarang foto-foto tersebut sanggup memenuhi kaidah foto jurnalistik," jelas Hariyanto.

INSPIRASI DARI WORKSHOP JURNALISTIK FOTO




Antusiasme peserta mewarnai Workshop, Hunting, and Photo Competition Dari Balik Lensa bertema Historicak Landmark, yang digelar Media Indonesia di Kota Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Arahan Hariyanto, fotografer senior Media Indonesia saat membuka acara di Gedung Indonesia Menggugat, mendapat perhatian besar dari peserta yang kebanyakan mahasiswa.

"Setelah ikut workshop ini, saya tidak takut untuk mengikuti lomba foto. Kamera saya memang poket, tapi untuk mendapatkan foto yang bagus, saya yakin tidak hanya ditentukan jenis kameranya," papar Rina Rianasari, salah satu peserta.

Sehari-hari Rina bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan percetakan. Ia hobi mengabdikan setiap kejadian yang dilihatnya.

"Saya ikut lomba foto ini dan tidak takut bersaing dengan peserta lain yang kebanyakan anak muda dan mahasiswa," tandas Rina.

Optimisme juga diperlihatkan sejumlah peserta lain. Beragam kamera menjadi senjata mereka, mulai dari kamera saku hingga kamera profesional.

Suasana Gedung Indonesia Menggugat yang bersejarah, lokasi Soekarno menjalani sidang pemerintahaan kolonial Belanda, menjadi inspirasi tersendiri.

Suntikan motivasi sejak awal sudah disuarakan Hariyanto di dalam kelas. Setiap peserta didorong untuk tidak menyerah, terutama karena kendala peranti.

Foto jurnalistik yang baik, menurut Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia itu, harus bisa menginspirasi, mengundang emosi, baik senyum, sedih, maupun tertawa bagi orang yang melihatnya. Untuk itu, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi.

"Di antaranya fotografer harus memiliki banyak perbendaharaan visual sehingga dia akan membawa imajinasi yang berwarna serta mampu mengambil sudut foto yang tepat. Kita harus sering melihat hasil foto orang lain supaya memiliki banyak perbendaharaan visual yang akan membawa kita memiliki pengalaman mengambil gambar baik," tambahnya.

Syarat lain untuk membuat foto jurnalistik yang baik yakni pravisualisasi, atau tindakan menguasai cara-cara atau teknis mengambil foto.

LESTARIKAN CAGAR BUDAYA MELALUI FOTOGRAFI

3 Foto Terbaik Historical Landmark Photo Competition Makassar


Di aula Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang, peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo, Makassar, pada 6-7 September, sejak pukul 08.00, puluhan peserta mengikuti pelatihan Dari Balik Lensa Historical Landmark yang diselenggarakan Media Indonesia

Acara dibuka slide show puluhan foto karya fotografer Media Indonesia. Pembekalan materi foto jurnalistik baik single dan story foto dikupas tuntas Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia, Hariyanto, sehingga membuka wawasan para peserta.

"Kegiatan ini untuk mengajak para peserta peduli dengan pelestarian cagar budaya Indonesia melalui fotografi" ujar Hariyanto

Selanjutnya peserta diberikan kesempatan untuk memotret di sekitar Fort Rotterdam dan kemudian di-review langsung bersama-sama.

Sebanyak 61 foto dari 31 peserta "direview" dan sekaligus dilakukan penjurian. Satu per satu peserta diberikan kesempatan mempresentasikan karya foto yang menjadi andalannya.

Komentar, kritik, dan saran dari mentor dan sesama peserta pun dilontarkan. Berbagai hadiah seperti buku fotografi dan suvenir dibagikan kepada setiap peserta yang kritis atau membawa penyegaran.


Setelah semua karya foto dipresentasikan, peserta diajak untuk memilih 20 foto terbaik yang akan menjadi nominasi. Dan selanjutnya mentor sekaligus juri dibantu asisten memilih 10 foto dan menentukan pemenang yang akan mengikuti grand final di Jakarta dengan total hadiah Rp115juta.


CERITA DARI BALIK LENSA

3 Foto Terbaik Historical Landmark Photo Competition Jakarta



SABTU (23/8) pagi, sekitar 130 peserta dengan berbagai latar belakang juga usia, berkumpul di aula Gedung Nederlandsce Handel Maatschappi (NHM) atau yang kini bernama Museum Bank Mandiri di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Mereka mengikuti workshop Dari Balik Lensa yang diselenggarakan Media Indonesia hingga keesokan harinya. Kegiatan itu merupakan rangkaian dari program pelatihan, hunting foto dan kompetisi foto di lima kota, yaitu Bandung, Jakarta, Makassar, Yogyakarta dan Lampung.

Ada pula kompetisi foto melalui daring. Puncaknya, final di Jakarta dengan total hadiah Rp115 juta.

Buat menginspirasi peserta, acara dibuka dengan penampilan puluhan foto karya fotografer Media Indonesia. Dengan saksama satu per satu foto didiskusikan.

Selanjutnya, mentor yang juga Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia, Hariyanto berbagi kiat memotret.

Workshop bertema "Historical Landmarks" ini mengajak peserta mengenal kembali sejarah sekaligus berkontribusi pada upaya pelestariannya.

"Juga memotret realitas yang terjadi berkaitan dengan lingkungan dan manusia di sekitarnya," ujar Hariyanto.

Seusai dibuka cakrawalanya, pada jeda istirahat, peserta memotret sekitar kawasan Kota Tua. Karya-karya mereka kemudian dibahas, baik dari segi teknik maupun maknanya.


INDAH KARYA SEJARAH DI BANDUNG


Indah, Kaya Sejarah, di Bandung (3 Foto Terbaik Historical Landmark Photo Competition)

Bandung tempo dulu banyak menyimpan cerita. Berbagai peristiwa penting begulir di kota ini,mewarnai sejarah bangsa ini.

Paris van Java ini punya banyak "Historical Landmark",sebut saja Gedung Sate yang kini menjadi kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penanda utamanya, ornamen tusuk satai (sate) di atasnya.

Wajah gedung yang dibangun pada 1920 ini mengantarkan Kenny S memenangi lomba foto Media Indonesia, Dari Balik Lensa bertema Historical Landmark.

Dengan dimentori oleh Haryanto, Kepala Divisi Foto dan Artistik Media Indonesia, lebih dari 50 peserta mengikuti rangkaian foto dan kompetisi foto.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengangkat wajah positif Indonesia dari berbagai sisi yang pada akhirnya dapat mendukung dan mempromosikan Indonesia melalui kayra-karya fotografer pehobi maupun profesional.

Sementara, wajah gedung Isola di tengah kampus Universitas Pendidikan Indonesia, yang diabadikan di malam hari oleh Vemy Silvia mejadi pemenang ke-2.

Juara ketiga dimenangi oleh Beatrix Ernesta Putri yang memotret foto kegiatan ibadah minggu di Katedral Santo Petrus, yang berarsitektur neo-Gothic.

Ada pula wajah Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homann, hingga kawasan Jalan Braga yang terekam para peserta lain. Nantikan Dari Balik Lensa Historical Landmark di kota-kota berikutnya!


PEMENANG HARI IMLEK 2556


TAHUN baru Imlek pada Kamis, 19 Februari 2015, dihitung sebagai tahun Kambing Kayu. Ada harapan baru untuk menjalankan hari-hari penuh rahmat. Terlebih, hewan ini juga diyakini perlambang terbukanya harapan baru untuk kehidupan lebih baik.

Merayakan Imlek tahun ini, Media Indonesia menyelenggarakan kompetisi foto bertajuk Harmoni Imlek 2566. Dewan juri yang beranggotakan para editor foto Media Indonesia memilih tiga dari ratusan foto yang dikirimkan ke redaksi.

Keluar sebagai juara pertama, yakni foto parade pawai Liong Batik sepanjang 159 meter yang tengah unjuk kebolehan pada pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY)X 2015. Foto tersebut diabadikan Angga Ari Fibuanto.

Juara kedua diraih Aji Styawan. Ia mengabadikan sejumlah anak-anak yang memberikan uang angpaw ke Barongsai. Sementara posisi ketiga dimenangi Ahmad Samsudin yang mengabadikan seorang perempuan berdoa dengan ekspresi khusyuk dan penuh harap.


Imlek telah menjadi bagian dari khazanah kebudayaan Indonesia, Warna yang dipulasnya menguatkan jejak multikulturalisme negeri ini. Indonesia memang kaya perbedaan yang menyatukan, bukan sumber konflik. Imlek menjadi perayaan buat segenap warga negeri ini. Selamat datang Kambing Kayu! (Sumaryanto Bronto/M-1).