Kotak Musik

Grand Final DBL

Penyerahan Hadiah - www.daribaliklensa.com

Grand Final DBL

Media Visit Peserta Grand Final - www.daribaliklensa.com

DBL Kota Jakarta

Workshop DBL - www.daribaliklensa.com

DBL Kota Makassar

Penyerahan Hadiah - www.daribaliklensa.com

DBL Kota Jogjakarta

Penyerahan Hadiah - www.daribaliklensa.com

LOMBA FOTO NASIONAL MI DAN BN





Kabar baik bagi para fotografer di Kabupaten Kotawaringin Barat dan sekitarnya. Harian Umum Media Indonesia bekerja sama dengan Borneonews dan Palangka Post menggelar Lomba Foto Nasional, yang dibuka hari ini, Sabtu (8/11). Acara ini diikuti para peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah.

Ajang ini sangat istimewa. Karena, para peserta yang datang dari berbagai daerah di Kalteng, seperti Palangka Raya, Sampit, Sukamara, Lamandau dan lainnya, tak sekedar berlomba. Mereka akan mendapatkan pelatihan seputar fotografi.Narasumber yang dihadirkan, edtor foto Media Indonesia, Hariyanto.

Pemmpin Perusahaan Borneonews dan Palangka Post, Revy Apriani mengatakan, kegiatan dilakukan selama dua hari. Hari Pertama, pelatihan. Kedua, hunting foto sekaligus lomba. Pemenang akan diumumkan pada hari terakhir pelatihan. "Sabtu pukul 08.00 WIB di Aula Bappeda Kobar peserta mendapatkan materi pelatihan. Pukul 13.00 peserta hunting foto satu jam, kemudian hasilnya direview narasumber," jelas Revy.

Lokasi hunting foto, sesuai tema Historical Landmark, yakni di sejumlah tempat bersejarah. Seperti Istana Kuning, Istana Mangkubumi dan sebagainya.

Revy menambahkan, Minggu (9/11), peserta hunting setengah hari. Pukul 14.00 semua foto yang dilombakan sudah masuk ke tangan panitia. "saat itu juga akan direview dan ditentukan pemenangnya."

Panitia memberikan kesempatan kepada para penggemar fotografi yang belum mendaftar menghubungi panitia pada hari pelaksanaan. Biaya pendaftaran termasuk workshop Rp100 ribu. Pemenang lomba akan mendapatkan total hariah Rp15 juta.

Selain Lomba Foto Nasional, para pecinta fotografi juga bisa mengikuti lomba foto dalam rangka Festival TWA Tanjung Keluang. Obyek foto dibatasi seputar TWA Tanjung Keluang. Pendaftaran lomba foto Festival TWA gratis. Bahkan, para peserta yang belum memiliki foto akan diakomodasi panitia menuju lokasi. "Hunting foto perserta, Minggu, 16 November," kata Ershad, panitia lomba.

DARI BALIK LENSA MEMBINGKAI YOGYAKARTA







Puluhan foto tempat-tempat bersejarah di Yogyakarta terkumpul dalam sebuah folder komputer. Foto-foto yang beraneka warna itu ialah hasil jepretan Komunitas Fotografi Media Indonesia yang mengikuti workshop dan kompetisi di Taman Pintar, Yogyakarta, selama 11-12 Oktober lalu, dengan tema Historical Landmark.

Yogyakarta merupakan lokasi keempat yang dibingkai Komunitas Fotografi Media Indonesia. Sebelumnya acara serupa digelar di Bandung, Jakarta, dan Makassar.

Menurut Euis Rumiris, panitia penyelenggara dari Media Indonesia, animo masyarakat dari berbagai kalangan di dunia fotografi makin meningkat. Media Indonesia, jelas Euis, melihat perlunya mewadahi keinginan itu dalam sebuah komunitas, yakni Komunitas Fotografi MEdia Indonesia, agar pencinta fotografi bisa menyalurkan hobinya.

Dari Balik Lensa ialah event fotografi yang diadakan Media Indonesia untuk menjawab kebutuhan komunitas fotografi di seluruh Nusantara. Dalam event ini, jelas Euis, Media Indonesia memberikan pembelajaran serta sharing pengetahuan tentang fotografi melalui workshop fotografi serta kompetisi foto.

Di Yogyakarta sendiri, acara diikuti sekitar 50 fotografer serta langsung dimentori Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia Hariyanto.

"Pesertanya komunikatif dan suasananya hidup," kata Hariyanto.

Ia menjelaskan umumnya peserta yang ikut sudah mengetahui dasar-dasar fotografi. Karena itu, selain memberikan materi fotografi, selebihnya mereka diberi kisah pengalaman selama dirinya menjadi fotografer.

"Yang penting ialah jangan mudah menyerah serta terus berusaha," kata Hariyanto.

Salurkan Hobi

Kusworo, salah satu peserta, mengaku suka dengan fotografi. Ia sering mengikuti kompetisi dan workshop fotografi sehingga saat ia mendapat informasi ada workshop dan kompetisi foto yang digelar Media Indonesia, ia langsung memutuskan untuk ikut. "Menyalurkan hobi dan menimba ilmu," kata ayah satu anak itu.

Tidak hanya dari Yogyakarta, peserta dari kota lain pun ikut serta. Bayu Bambang, misalnya, mengaku datang dari Bandung hanya untuk bergabung dengan Komunitas Fotografi Media Indonesia. "Ya, saya mau mendapat pengalaman," kata mahasiswa semester lima BSI Bandung itu.

Euis menerangkan acara Dari Balik Lensa memang terbuka untuk umum. Meski digelar di Yogyakarta, warga luar Yogyakarta pun bisa mengikuti workshop dan kompetisinya. Nantinya foto pemenang kompetisi dimuat di Media Indonesia pada rubrik Travelista.

PELAJAR MAKASAR IKUTI WORKSHOP FOTOGRAFI MI



Hobi fotografi terus meluas. Selain masyarakat umum dan mahasiswa, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kegiatan yang satu itu juga telah menggoda kalangan pelajar.

Ketika Media Indonesia menggelar Journalistic Photography Workshop, Hunting and Photo Competition, akhir pekan lalau, ada 50 peserta yang hadir. Enam orang diatara peserta ialah pelajar SMA.

"Saya sangat senang ikut kegiatan ini karena meski saya suka fotografi saya masih buta dengan teori-teori dasar cara memotret yang bisa bercerita. Setelah mengikuti kelas workshop ini saya sudah mulai paham," aku Nahda Nur Anisah, pelajar SMAN 3 Makassar.

Meski digelar di Makassar, workshop bertema Dari balik lensa historical landmark itu juga diikuti peserta dari Papua dan Papua Barat.

Pada kesempatan itu, Hariyanto, Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia, menyatakan pewarta foto yang baik harus mampu membangun insting, memahami persoalan, dan tidak pantang menyerah. Karena itu, saat memotret sebuah acara atau kegiatan, fotografer harus ada sebelum acara dimulai dan meninggalkan tempat setelah acara tuntas.

"Salah satu godaan fotografer ialah meniggalkan lokasi setelah merasa mendapat gambar yang bagus. Lebih dari itu, foto juga harus bisa memberi edukasi," tandasnya di Aula Benteng Rotterdam, Makassar.

Selain workshop, para peserta ditantang berkompetisi. Tiga pemenang dipilih dan mendapat hadiah uang tunai serta sejumlah bingkisan.

Untuk menumbuhkan hobi fotografi, Media Indonesia telah menggelar kegiatan serupa di Jakarta dan Bandung. Setelah Makassar, event yang sama akan diadakan di Yogyakarta dan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.


MENSYUKURI BERKAH TEKNOLOGI FOTOGRAFI





SABTU pagi, salah satu aula di Gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), yang kini dikenal dengan nama Museum Bank Mandiri di Kawasan Kota Tua, Jakarta, menjadi lebih riuh daripada biasanya.

Tidak mengherankan karena sekitar 130 peserta berkumpul untuk yang mengikuti workshop Dari Balik Lensa yang diselenggarakan Media Indonesia bertema Historical landmarks pada 23-24 Agus tus 2014.

Aula itu terisi penuh oleh para pelaku dan penikmat fotografi yang sedang asyik mengapresiasi puluhan foto yang ditampilkan dalam mode slide show. Itulah foto-foto yang disajikan oleh mentor acara itu, yakni Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia, Hariyanto.

Tema Historical landmarks dipilih agar generasi muda di ajak mengenal kembali sejarah sekaligus melestarikannya.

"Tak hanya melestarikan, tetapi juga memotret realitas yang terjadi berkaitan dengan lingkungan dan manusia di sekitarnya," jelas Hariyanto.

Peserta tak dibatasi, semua kalangan dari berbagai usia bisa menjadi bagian di dalamnya.

"Berkat berkah teknologi fotografi, kini memotret menjadi relatif lebih mudah. Kini fotografi milik banyak orang tak terbatas usia dan kalangan," jelas Hariyanto.

Salah satunya ialah Fadel Mohammad, siswa SMA Negeri 61 Jakarta Timur. Ia menyatakan ketertarikannya pada foto-foto jurnalistik yang berkaitan dengan alam, dan sering mengambil referensi dari majalah National Geographic.

Lain halnya Wulan Kurniati yang bekerja sebagai seorang auditor. "Saya biasanya foto untuk model, yang objeknya bisa dikondisikan, berbeda dengan foto jurnalistik yang memang berdasarkan momen," jelasnya.

Di saat hampir semua media massa di Indonesia memberikan ruangnya bagi masyarakat, tak banyak yang memberikan edukasi mengenai bagaimana seharusnya foto memenuhi kaidah jurnalistik.

"Berdasarkan pengalaman saya di Media Indonesia membuktikan, banyak yang bisa memotret, dan mereka mengirimkan foto kepada kami, tapi jarang foto-foto tersebut sanggup memenuhi kaidah foto jurnalistik," jelas Hariyanto.

INSPIRASI DARI WORKSHOP JURNALISTIK FOTO




Antusiasme peserta mewarnai Workshop, Hunting, and Photo Competition Dari Balik Lensa bertema Historicak Landmark, yang digelar Media Indonesia di Kota Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Arahan Hariyanto, fotografer senior Media Indonesia saat membuka acara di Gedung Indonesia Menggugat, mendapat perhatian besar dari peserta yang kebanyakan mahasiswa.

"Setelah ikut workshop ini, saya tidak takut untuk mengikuti lomba foto. Kamera saya memang poket, tapi untuk mendapatkan foto yang bagus, saya yakin tidak hanya ditentukan jenis kameranya," papar Rina Rianasari, salah satu peserta.

Sehari-hari Rina bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan percetakan. Ia hobi mengabdikan setiap kejadian yang dilihatnya.

"Saya ikut lomba foto ini dan tidak takut bersaing dengan peserta lain yang kebanyakan anak muda dan mahasiswa," tandas Rina.

Optimisme juga diperlihatkan sejumlah peserta lain. Beragam kamera menjadi senjata mereka, mulai dari kamera saku hingga kamera profesional.

Suasana Gedung Indonesia Menggugat yang bersejarah, lokasi Soekarno menjalani sidang pemerintahaan kolonial Belanda, menjadi inspirasi tersendiri.

Suntikan motivasi sejak awal sudah disuarakan Hariyanto di dalam kelas. Setiap peserta didorong untuk tidak menyerah, terutama karena kendala peranti.

Foto jurnalistik yang baik, menurut Kepala Divisi Artistik dan Foto Media Indonesia itu, harus bisa menginspirasi, mengundang emosi, baik senyum, sedih, maupun tertawa bagi orang yang melihatnya. Untuk itu, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi.

"Di antaranya fotografer harus memiliki banyak perbendaharaan visual sehingga dia akan membawa imajinasi yang berwarna serta mampu mengambil sudut foto yang tepat. Kita harus sering melihat hasil foto orang lain supaya memiliki banyak perbendaharaan visual yang akan membawa kita memiliki pengalaman mengambil gambar baik," tambahnya.

Syarat lain untuk membuat foto jurnalistik yang baik yakni pravisualisasi, atau tindakan menguasai cara-cara atau teknis mengambil foto.